Kamis, 19 Juni 2008

Richard Rorty VS Karl-Otto Apel

Richard Rorty dan Karl-Otto Apel mengundang perbandingan, tidak hanya karena mereka mengklaim secara luas filosofi yang sejenis dan tradisi filsafat menawarkan dukungan implisit atas kesimpulan hermenetis mereka. Tetapi konsekuensi filosofis dan sosio-etikal dari sistem mereka berbeda tajam. Lebih jauh, mereka menawarkan jawaban yang bertolak-belakang atas pertanyaan apakah kita dapat menawarkan evaluasi metakritis atas norma-norma yang diasumsikan oleh sebuah komunitas penafsiran yang mungkin berakar pada pertimbangan trans-kontekstual di luar batas-batas komunitas itu sendiri. Rorty dan Apel sama-sama percaya pada pentingnya komunitas itu sendiri, pentingnya later Wittgenstein dan tradisi filsafat analitis,. Keduanya sama-sama berdialog dengan Gadamer dan hermeneutik post-Kantian. Keduanya sama-sama tertarik kepada Charles S. Peirce, Josiah Royce, dan tradisi pragmatis Amerika.
Pada tahun 1967, saat memberikan kata pengantar bagi The Linguistic Turns Rorty mulai mempertanyakan apakah filsafat dapat berbuat lebih daripada hanya sekedar mengusulkan perubahan ‘perspektif’. Pada tahun yang sama Apel menerbitkan Analytic Philosophy of Language and the Geisteswissenschaften dimana ia menyodorkan kritik atas early Wittgenstein. Ia mengatakan bahwa Blue and Brown Books-nya Wittgenstein sebagai “hermeneutika ‘meaning intentions’”, dan mendefinisikan language game Wittgenstein sebagai “kesatuan konkret atas penggunaan bahasa, suatu bentuk hidup, dan sebuah cara tertentu untuk memandang dunia, setiap cara berbeda tetapi tetap berhubungan satu sama lain.” “Tidak otonom, dan tidak mengundang relativisme radikal.” Tetapi Wittgenstein, menurut Peter Winch, telah mengundang pendekatan hermenetis bagi ilmu-ilmu sosial.
Tahun 1975 Apel menerbitkan sebuah esai tentang pemikiran C.S. Peirce, tesisnya adalah: “Pendekatan filsafat Peirce dapat dimengerti sebagai transformasi semiotikal dari konsep transendensi logis Kant.” Walaupun tidak terlalu banyak berdialog dengan Dewey (tidak sebanyak Rorty), pengaruh pragmatisme Amerika mendasari filsafat Apel.
Kontekstualisme Sosio-Pragmatis Richard Rorty
Rorty mendalami dan mengembangkan satu sisi dari filsafat hermenetis Gadamer. Satu sisi yang paling lemah dan rentan, menurut Habermas, Apel, dan Pannenberg. Meminjam istilah Weinsheimer, Gadamer menekankan bahwa “…pekerjaan penafsiran itu hanya muncul pada representasinya, tidak di tempat lain…tidak dapat ada kriteria pasti untuk penafsiran yang benar.” Georgia Warnke menulis bahwa hermeneutika Gadamer “menunjukkan cara di mana kita dapat memandang semua bentuk pengetahuan bertaut erat pada seperangkat norma-norma dan kesepakatan yang dihasilkan oleh sejarah.”
Hermeneutik didefinisikan oleh Rorty “not another way of knowing…but as another way of coping.” Pengetahuan tak dapat mencerminkan alam sebagaimana adanya. Hermeneutik menunjukkan bahwa semua klaim pengetahuan muncul dari tradisi sosial yang sudah ada sebelumnya, di mana kesepakatan menentukan apa yang dapat diterima sebagai “rasional.”Mengikuti Wilfrid Sellars, Rorty menolak anggapan bahwa ada sesuatu yang telah terberi (given). Ini sejalan dengan kesimpulan Stanley Fish di tahun 1980 yang berkata, “…sekarang aku percaya bahwa penafsiran adalah sumber dari teks, fakta, author, dan maksud-maksud.” Di tahun 1989 Fish menulis bahwa segala sesuatu, walaupun tampaknya sangat ‘alamiah’ sesungguhnya ditentukan oleh proses yang ‘sama sekali tak alamiah’, yaitu oleh ‘tindakan-tindakan tanpa perenungan sebagai akibat ketertanaman kita pada konteks praktek-praktek yang dibentuk oleh tatanan masyarakat.”
Habermas, Apel, dan Rorty sama-sama mengikuti tradisi later Wittgenstein, Heidegger, dan Dewey, juga Peirce dan Josiah Royce; Bedanya, Rorty menekankan aspek-aspek yang sesuai dengan behaviorisme pragmatis dan dapat dikatakan memicu teori kebenaran konsensus. Sedangkan Habermas dan Apel tidak tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan universal, transendental, atau trans-kontekstual. Perbedaan pandangan seperti ini sudah ada bahkan pada penafsiran pemikiran Wittgenstein sendiri, W. Hordern, Paul van Buren, dan Henry Staten berpendapat bahwa language-games dapat dipandang sebagai setting kontekstual yang self-contained; sedangkan Apel berpendapat language games ini saling berinteraksi. Jika tidak demikian ia akan kehilangan signifikansinya terutama tentang kriteria masyarakat atas makna. Sebaliknya, dalam “Contingency, Irony, and Solidarity” (1989) Rorty mengatakan bahwa “truth as given rather than made” tergantung kepada pembatasan perhatian kepada satu kalimat, bukan pada kosakata, atau ini dapat dikatakan suatu kegagalan untuk bergerak dari “kalimat yang dipimpin oleh kriteria dalam language game” kepada “language sebagai keseluruhan, games yang kita tidak pilih dengan referensi kepada kriteria.” Ini menuntut pendekatan Wittgenstenian yang menyeluruh terhadap bahasa.
Rorty simpati kepada para pemikir ‘sejarah’ yang telah mengganti tujuan berpikir dari ‘kebenaran’ (truth) menjadi ‘kebebasan’(freedom), yang diwakili oleh Heidegger dan Foucault di satu sisi, dengan Dewey dan Habermas di sisi yang lain. Walaupun ia tetap tak setuju dengan proyek kritik transendental Habermas atas komunitas, karena ia menganggapnya tak mungkin dilakukan, misalnya: kaum Liberal mengutuk kekejaman, tetapi tak dapat menjawab pertanyan “Mengapa tidak kejam?”
Pada karya awalnya Rorty menyebut Wittgenstein, Heidegger, dan Dewey sebagai tiga filsuf terpenting abad ini karena mereka telah mencoba memformulasikan dasar-dasar filsafat, tetapi pada akhirnya menyadari usaha itu hanyalah suatu penipuan diri, karena mereka menemukan bahwa dasar-dasar bagi pengetahuan hanyalah konteks praktek-praktek sosial, language games, bahkan social self-images.
Pada Philosophy and the Mirror of Nature Rorty mengatakan bahwa “pengetahuan bukanlah cerminan alam, tetapi merupakan percakapan dan social practices.” Rasionalitas, katanya, hanyalah “apa yang masyarakat perbolehkan kita katakan, tidak ada landasan lain bagi pembenaran selain apa yang telah diterima sebelumnya…tidak ada cara untuk keluar dari kepercayaan-kepercayaan dan bahasa kita…tidak ada tes selain tes koherensi” Ia menyebut hal ini sebagai “Holism” yang merupakan wujud penolakan atas seluruh bangunan epistemologi. Mengutip Thomas Kuhn, Rorty menyatakan bahwa tidak ada landasan bagi filsafat selain norma-norma sosial. Ini membuat Rorty menarik hermeneutics menjauh dari epistemologi. Ketika kita pikir kita mengerti apa yang kita lakukan, kita sebut hal itu epistemologi; tetapi ketika kita tak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi cukup jujur untuk mengakuinya: kita sebut itu hermeneutics. Rorty menarik dua kesimpulan positif dari revaluasi filsafat dan rasionalitas ini, yaitu:
1. Jika kriteria untuk mengerti sebuah kultur adalah relatif terhadap kultur itu, maka kita perlu menghormati “penemuan hermenetis tentang bagaimana menerjemahkan kultur itu tanpa membuatnya kedengaran bodoh”
2. Pendekatan ini sangat pluralistik dan pragmatis. Rorty tidak setuju dengan usaha Habermas dan Apel untuk mencari “titik pandang universal.”
Pada akhir karyanya Rorty secara eksplisit menolak usaha Apel dan Habermas untuk menghasilkan teori hermeneutik yang tidak terlalu pragmatis, yang tidak terlalu tergantung konteks. Apel dan Habermas telah secara salah mencari viewpoint yang transenden bagi hermeneutics. Rorty berpendapat tidak ada cara untuk menganalisis fungsi pengetahuan dalam konteks universal hidup sehari-hari. Ia berpendapat bahwa filsafat lebih bersangkut-paut dengan ‘membuat’ ketimbang ‘menemukan’ sesuatu yang telah terberi. Dalam bab XIII dan XIV Thiselton akan menunjukkan bagaimana pandangan ini mendominasi pendekatan sosio-pragmatis Fish dalam menghampiri teks. Menolak Habermas, Rorty menyetujui pendapat Dewey bahwa filsafat bertujuan untuk “membuat jelas dan koheren rincian sehari-hari” atau “social engineering”. Jika Habermas bertujuan untuk menemukan filsafat yang transenden dan kritis (tentu merupakan sebuah ‘meta-narasi’), maka Rorty sepihak dengan Lyotard, sangat antipati terhadap teori-teori meta-kritikal apapun.
Keberatan-keberatan atas Rorty
Kita telah melihat bahwa Habermas dan Apel telah mengritik Gadamer karena kekurangannya akan dimensi kritikal dan sosio-kritikal. Tetapi ke arah kontekstualisme sosio-pragmatis seperti inikah Gadamer menuntun kita? Georgia Warnke dalam bukunya yang hebat mengenai Gadamer, mengatakan bahwa tafsiran Rorty atas Gadamer terlalu one-sided. Ia melupakan dua elemen penting dalam pemikiran Gadamer, yaitu:
1. Dimensi dialog hermeneutis yang mengatasi sekedar interes kita. Warnke menulis, “Kita dapat diubahkan oleh apa yang kita pelajari. Hermeneutik tidaklah sesubyektif apa yang dibuat Rorty” Dalam percakapan saat pokok-pokok pembicaraan muncul dan menghilang, ada pokok pikiran yang tidak pernah ada dalam benak kita sebelumnya; kita ditantang oleh lawan bicara; kita melihat sudut pandang yang lain; konsep dikerjakan bersama-sama.” David Tracy melihat “percakapan” ini sebagai sumber krusial untuk menghadapi dekonstruksionisme.
2. Penekanan Gadamer akan isi (die Sache). Di satu sisi teks hanya ‘eksis’ dalam aktualisasinya pada konteks yang berbeda, di sisi lain teks yang sama inilah yang diaktualisasikan.
Walaupun Rorty membela diri dengan dalih etnosentrisitas, Warnke dengan tajam menunjukkan bahwa pendapat Rorty irasional, klaim-klaimnya bahkan dapat dipersalahkan di atas dasar pragmatis. Ia menyimpulkan bahwa posisi Gadamer menawarkan pilihan yang tak dapat ditawarkan Rorty.
Dalam bukunya “Contest of Faculty”, Christopher Norris menunjukkan sumber kesulitan ketiga dalam neo-pragmatisme Rorty. Seperti telah kita lihat sebelumnya, Rorty memihak Lyotard melawan argumentasi meta-kritikal Habermas yang bertujuan untuk mendirikan suatu dimensi dibalik praktek-praktek sosial. Norris berpendapat bahwa dalam usahanya melawan Habermas, Rorty telah berkontradiksi dengan sikap anti meta-narasinya. Ia membuat suatu ‘meta-narasi’ untuk melawan Habermas, ada otoritarianisme terselubung dalam filsafat Rorty. Narasi yang dibuat Rorty ini telah menutup semua jalan keluar, kecuali yang berlabel ‘James dan Dewey’, penggunaan retorika liberal untuk menyelubungi pesan yang otoritatif ini membuat neo-pragmatisme Rorty mirip dengan bentuk narasi abad ke-19.
Acuan tak langsung kepada abad ke-19 ini memunculkan isu keempat mengenai neo-pragmatisme Rorty. Sejak pergantian abad pragmatisme telah memikat banyak pemikir Amerika, misalnya Robert. S. Corrington dalam Community of Interpreters dimana ia mengikuti tradisi Peirce dan Royce, dan meminjam dari Gadamer aspek-aspek yang juga ditekankan oleh kaum Neo-pragmatis. Peirce dan Royce mengasumsikan ‘ontologi komunitas’ sebagai jawaban atas kesalahan penilaian manusia yang tak dapat dihindari. Royce tidak lagi mencari makna teks yang sudah terberi (karena menganggapnya memang tidak tersedia); melainkan ia mencari efek yang dihasilkan (‘edifikasi’ dalam istilah Rorty). Norris menyebut hal semacam ini sebagai “American pragmatist cultural politics” sementara Jonathan Culler beranggapan bahwa pragmatisme ini cocok sekali dengan era Presiden Reagan.
Rorty mengakui kedekatan hubungan neo-pragmatisme dengan konteks pemikiran Amerika yang sangat majemuk. Filsafat seperti inilah yang dapat dengan nyaman diterapkan kepada suatu bangsa yang majemuk seperti Amerika, filsafat ini dapat mengurangi gesekan, persaingan, dan ancaman ketegangan antar sub-kultur.
Dalam sistem filsafat Gadamer, kontinuitas historis-temporal dari tradisi, adalah strata yang menghubungkan tindakan-tindakan yang terbatas dalam sejarah; ini bukanlah sekedar momen-momen otonom yang setera seperti klaim sub-grup-sub-grup dalam kultur pluralistik. Ada momen-momen tertentu yang lebih penting dan sangat menentukan dalam sejarah kultur itu. Norris melihat ketidak-berdayaan dan kerentanan filosofis pada pendekatan Rorty. Sosial-pragmatisme menganjurkan toleransi dengan pikiran terbuka terhadap budaya yang lain, tetapi dalam prakteknya ia mendahulukan nilai-nilai budaya liberalnya. Filsafat status quonya membuatnya tak berdaya untuk membebaskan mereka yang tertinas. Cornel West, seorang yang berbicara bagi teologia kulit hitam Amerika mempertanyakan ketidak-berdayaan teori sosio-kultural Rorty untuk mengkritik diskriminasi kulit hitam Amerika. West mencatat bahwa Dewey sendiri mengakui bahwa ajaran sejarah yang total relativis akan jatuh pada salah satu dari empat konsekuensi: skeptisisme yang melumpuhkan, pandangan “punya sayalah yang benar”, intuisionisme, atau kontekstualisme yang selalu dibandingkan dengan situasi diri. Tidak ada dari keempat ini yang menyediakan teori kritis bagi aksi sosial.
Rorty berjuang keras mengatasi dilema ini pada bab terakhir Contingency, Irony, and Solidarity. Liberal pluralis dalam dirinya melihat kemajuan moral dalam sikap penerimaan orang yang sangat berbeda dari kita sekalipun. Tetapi ‘ironis’ dalam dirinya hanya dapat menyatakannya dalam bentuk negatif, baik kita maupun institusi kita tak ada yang benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang dirugikan. Seperti skeptisis jaman Yunani ia menemui jalan buntu. Ia tak dapat menemukan jawaban bagi pertanyaan, “mengapa tidak kejam?” Kesalahannya adalah mencampur-adukkan historical contingency dan kontekstualisme dalam menantang status fundasionalisme absolut di luar waktu, tempat, dan sejarah, dengan relasi dialektikal yang positif antara kesementaraan kontekstual yang terus berubah dengan eksplorasi metakritikal yang terus berlanjut dan pengujian dalam bentuk sistem terbuka. Habermas dan Apel mengeksplorasi hal ini, walaupun tentunya life-world yang semntara, maupun sistem penjelasan tidak pernah mencapai kata akhir, tetapi berkontribusi kepad keseluruhan yang interaktif.
Karl-Otto Apel: Antropologi Kognitif sebagai Metakritik Transendental
Teori sosio-critical dan socio-pragmatic yang berlawanan pada akhirnya akan memunculkan teologia pembebasan dan hermeneutika feminis. Pada bab XIII dan terutama XIV nanti, Thiselton akan memakai lima bidang masalah dalam kaitannya dengan Rorty, memeriksa dan mengembangkannya untuk mengkritik Stanley Fish.
Berlawanan dengan Rorty, Apel menolak teori tentang kebenaran yang dapat direduksi menjadi sekedar pragmatisme sosial. Ia tidak berusaha merubah epistemologi menjadi hermeneutika, tetapi untuk memperluas epistemologi tradisional dengan istilah “cognitive anthropology” Ia memperluas pertanyaan transendental Kant mengenai “prasyarat bagi posibilitas pengetahuan.” Seperti Habermas, ia melihatnya berada pada “interaksi hidup antar manusia…yang berhubungan dengan cognitive interest tertentu.”
Diskusi Apel tentang later Wittgenstein lebih ekstensif, detil, dan ketat ketimbang Rorty. Apel mengijinkan pandangan Wittgenstein mengenai maksud (intention) dan makna mempertanyakan “aspek psikologis” dalam hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey . Bagaimanapun juga berkali-kali secara terang-terangan Wittgenstein menolak behaviourisme. Bagi Apel sumbangan Wittgenstein adalah “Hermeneutik mengasumsikan adanya public ‘habit’/social ‘institution’ Tradisi historis menyediakan penengah antara language-game yang muncul dan menghilang sepanjang sejarah.
Cognitive Interest umat manusia berkait dengan mode-mode pengetahuan dan pemahaman yang berbeda. Sebelum Habermas menerbitkan The Theory of Communicative Action, Apel telah menyodorkan konsep trikotomis: scientists, hermeneutics, dan the critique of ideology. Berlawanan dengan Habermas, Apel setuju dengan Ricoeur bahwa ‘pemahaman’ (understanding) dan ‘penjelasan’ (explanation) bersifat saling melengkapi. Bagaimanapun juga data-data empiris sendirinya berada dalam konteks language game. Georgia Warnke menyimpulkan bahwa Apel membedakan tiga pendekatan yang sah kepada ilmu-ilmu sosial, berhubungan dengan tiga ‘knowledge-constitutive’ interests, yang merupakan bagian dari transformasi transcendental-pragmatic nya atas filsafat Kant, yaitu:

APPROACH-SCIENCES INTEREST
Deductive-nomological Technological interest to predicting & controling behaviour
Historical-hermeneutical Expanding communicative understanding
Critical-reconsructive Emancipation from pathological/ideological impediments to understanding

Apel juga menulis buku-buku mengenai relasi antara intersubjectivity, cognitive intrest, dan transcendental conditions of knowledge (Towards a Transformation of Philosophy), dan contemporary social theory (Understanding & Explanation). Dalam Understanding & Explanation ia membahas daerah yang tak tersentuh antara teori sosial yang bersandar pada paradigma hukum umum dan penjelasan mengenai sebab-musabab (Weber, Hempel, dan neo-positivist), dengan mereka yang menggunakan hermeneutika (Dilthey, Winch, Taylor dan neo-Wittgenstensian). Apel melihat filsafat Gadamer sebagai sesuatu yang mengesahkan pendekatan hermeneutika, tetapi juga sekaligus secara tak sadar Gadamer telah mengkonfirmasi ketidak-cukupan hermeneutik sebagai mode pengetahuan/pemahaman kritis yang universal. Apel juga memberi banyak perhatian pada pembahasan Georg H. von Wright atas batas-batas konsep Hempel mengenai penjelasan kausal. Keterberian inter-subyektivitas dan interaksi sosial telah memimpin kepada teori “transendental pragmatis” yang memungkinkan kita untuk menjelaskan tindakan dalam istilah model-model kausal. Tanpa dimensi hermenetis, penjelasan ilmiah dalam ilmu sosial akan menjadi paradoks; tetapi sebaliknya, hermeneutik saja juga tidak akan ‘insufficiently critical.’ Penjelasan historis tak dapat seluruhnya dirumuskan dalam bentuk hukum-hukum umum. Ia melampaui penjelasan deduktif-nomologis. Pertanyaan kontekstual tentang pre-understaning tak dapat diabaikan. Beginilah penjelasan dan penafsiran (hermnetik) saling melengkapi. Seperti diamati oleh Peirce, masyarakat ilmuwan selalu mengekspresikan diri sebagai ‘semiotic community of interpretation.’
Gadamer telah salah dengan menghindari kategori “abstraksi hermenetis-metodologis” apapun. Tidaklah baik untuk menganggap sama “model interpretasi kritis” dengan hakim, pengarah, atau partisipan dalam sebuah permainan/drama. Bahkan dalam model percakapan, sesuatu yang lebih dari sekedar “mendengarkan” dan “menyesuaikan” harus dilibatkan, karena kita harus memberikan tempat bagi kegagalan atau kemungkinan distorsi. Dalam tori psikoanalisa, diagnosa dan pengenalan breakdown dan distorsi semacam ini adalah sesuatu yang sangat mendasar.
Dialog Apel dengan Tradisi Pragmatis Amerika
Ada dua esai yang sangat penting mengenai hal ini: “From Kant to Peirce: the Semiotical Transformation of Transcendental Logic”; dan“Scientism or Transcendental Hermeneutics? … the Interpretation of Sign in the Semiotics of Pragmatism.” Apel berargumen bahwa behaviourism dan effective neo-positivism dari Charles Morris sesungguhnya telah menunjukkan kelemahannya sendiri: logika tanda hanya dapat beroperasi di dalam konteks sosial yang interaktif, yang ditandai oleh istilah “pragmatics”, ia tidak memakai istilah “syntactics” atau “semantics.” Peirce melihat bahwa teori tanda manapun pasti akan berasumsi bahwa tak akan ada representasi sesuatu sebagai sesuatu dengan tanda tanpa interpretasi oleh interpretor yang sesungguhnya. Tetapi hal ini, menurut Apel, tidak membawa kita pada reduksi atau cara pandang makna yang anti transendental. Peirce, dan khususnya Royce hanya mengimplikasikan sebuah “trancendental hermeneutic interpretation of hermeneutics,” mereka tidak membuang dimensi transenden dari epistemologi; mereka hanya mempertanyakan (dan mentranspose) epistemologi tradisional yang sempit, dengan menyingkapkan kemiskinan metodologinya. Peirce dan Royce mencatat bahwa komunitas penafsiran dapat ditemukan dalam “tindakan rasional yang kukuh, yang sah bagi semua orang pada semua waktu.” Ada “norma-norma interaksi sosial” yang menjadi patokan. Ini seperti pendapar Wittgenstein bahwa tingkah laku bersama manusia adalah titik referensi bahasa.
Mirip dengan Habermas, Apel berpendapat bahwa “the historically constituted life-form of a given society” (yaitu ‘life-world’ bagi Habermas, atau ‘language game’ bagi Wittgenstein) adalah transenden terhadap institusionalisasi institusinya sendiri (“sub-system” bagi Habermas, atau ‘training’ bagi Wittgenstein); suatu ‘meta-institusi’ bagi semua institusi dogmatis. Karena bahasa dapat saling diterjemahkan, karena language-game saling tumpang tindih, bergabung, terpecah, dan bersatu kembali, meta institusi ini menjadi suatu bagian dari “media komunikasi tak terbatas” (“general system” bagi Habermas, atau “perilaku bersama manusia” bagi Wittgenstein).
Komentar Thiselton atas Apel
Apel telah mempertemukan hermeneutik, teori sosial, dan pencarian dimensi transenden untuk memungkinkan kritik psiko-sosial atas masyarakat dan tradisi yang tidak semata-mata internal secara kontekstual bagi mereka. Maka tidak seperti Rorty, ia tidak berkewajiban untuk memformulasikan sebuah pragmatisme pluralistik atau etnosentrisitas untuk teori kritik sosial-nya. Jantung perbedaan Apel dan Rorty adalah pembacaan/penafsiran yang berbeda dari Peirce, Royce, dan terutama Wittgenstein. Posisi Apel dekat dengan Habermas, tetapi keunggulannya adalah kritik transendental Apel lebih tidak terikat dengan teori-teori sosial tertentu. Tetapi teori Apel ini, saking umumnya, ia kurang mendapat perhatian dari kalangan praktisi.
Kesimpulan
Signifikansi perbandingan Habermas, Apel, dan Rorty akan muncul paling jelas ketika kita memeriksa sistem sosio-kritikal dari hermenetik dalam wilayah teologia pembebasan. Sesungguhnya, teologia pembebasan dari Amerika latin, hermenetika kulit hitam, dan hermenetika feminis, semuanya mengajukan pertanyaan mendasar tentang framework pengetahuan, bahasa, dan pemahaman pada praktek tertentu penafsiran dan penafsiran ulang Alkitab. Tetapi kita tidak meninggalkan pertanyaan-pertanyaan mengenai prinsip-prinsip universal/transendental. Mungkin pertanyaan yang paling penting yang harus diajukan pada setiap aliran hermenetika pembabasan adalah apakah ia menrapkan prinsip kritikal yang dicari oleh Habermas dan Apel, mengikuti pandangan trans-kontekstual atas resionalitas dan norma-norma rasional, ataukah sistem itu telah jatuh kepada pragmatisme sosio-kontekstual Rorty (yang sudah kita kritik habis). Juga kita harus terus mengingat isu yang diangkat Apel mengenai interaksi, overlappings, dan integrasi antara language-games yang terus bertumbuh ketika kita memriksa usaha Stanley Fish untuk memakai teori filsafat sosio-pragmatis sebagai kerangka pikir bagi teori reader-response-nya. Teori Fish sangat rapuh dan tak cukup. Sedangkan Apel, seperti Habermas, telah menghasilkan teori hermeneutika kritik sosial yang kreatif.

Tidak ada komentar: